Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 April 2012

Semoga IMC dari daerah bisa berbagi cerita untuk bangsa.

Oleh: Syarif Hidayat

Dari berjuta-juta mahasiswa sejagat, ada sekumpulan mahasiswa yang berbicara lain dalam melantangkan perjuangannya. Diatas tanah banten selatan yg kita injak sekarang, terbersit sebuah idealisme luhur untuk membangun bangsa dari daerah. Perjuangan ini bukanlah sebuah utopia yg lahir dan berkembang  dalam kegelisahan pemikiran saja. namun termanifestasi dalam amal nyata di masyarakat. Ini adalah para mahasiswa  berbicara nyaring mengenai filosofi gerakan mahasiswa kini dan masa depan, yang tidak hanya berteori tetapi dilambari juga dengan cerita perjalanan para kader2nya yang mengharu biru..dari Banten Selatan semoga IMC bisa berbagi cerita untuk bangsa.

Mahasiswa. Ia adalah sebuah signified (penanda) yang mengacu pada signifier (petanda) kelas menengah yang intelek, idealis, energik, dan potensial. Mahasiswa merupakan lambang kekuatan pemuda yang bergerak dan menggerakkan, karena berbagai potensi yang ia miliki. Itulah kenapa gerakan mahasiswa yang selalu mendapat sorotan, bukan gerakan manula atau gerakan anak-anak. Mereka memiliki kapasitas intelektual yang memadai dan berada pada usia yang cukup untuk membuat sebuah perubahan.

Paradigm Shifts
Bicara tentang perubahan paradigma, tentu kita tidak bisa melupakan Thomas Khun sebagai tokoh yang banyak menulis tentang “paradigm”. Dalam bukunya “The Structure of Scientific Revolution”, Khun menitikberatkan pada istilah scientific revolution (revolusi ilmu pengetahuan) yang kemudian dimaknai sebagai paradigm shifts (perubahan paradigma). Dengan kata lain revolusi ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah pergantian paradigma, perubahan pola pikir, cara memandang, cara mendefinisikan suatu gejala atau suatu persoalan.

Revolusi ilmu pengetahuan dalam ilmu sosial budaya terjadi ketika muncul paradigma baru yg mengungkap aspek2 tertentu dari gejala sosial budaya yang selama ini terabaikan. Artinya, paradigma baru adalah pengembangan dari paradigma lama, sehingga paradigma baru bersifat melengkapi paradigma lama. Hal ini memungkinkan manusia untuk memeroleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai gejala sosial tertentu.

Paradigma gerakan mahasiswa sebagai pelopor perubahan sosial perlu ditata kembali.  Gerakan mahasiswa tidak hanya sekedar “berteriak” di jalan, tapi juga berperan sebagai gerakan yang solutif. Gerakan mahasiswa merupakan gerakan kontrol sosial yang berbasis intelektual. Kata intelektual di sini mengacu pada kemampuan untuk berfikir strategis secara ilmiah. “Berteriak” pun pada dasarnya membutuhkan riset atau penelitian mendalam. Ketersediaan data-data yang akurat mengenai sebuah persoalan akan membuat kita mampu melihat lebih luas dan dalam, sehingga kita bisa menawarkan solusi yang memungkinkan untuk dilakukan.

Cadangan keras yang merupakan keluaran kampus haruslah cadangan yang berkualitas. Jangan sampai ada mahasiswa yang “jagoan” menjadi agen perubah, tidak pernah absen dari jadwal-jadwal demonstrasi, pandai berorasi, namun tergagap-gagap ketika bicara tentang spesialisasi ilmu yang ia pelajari di kampus. Ada perubahan yang kita teriakkan, ada ide-ide cemerlang yang kita tawarkan kepada bangsa ini, namun kita tidak boleh lupa bahwa kita tetap bertanggung jawab pada apa yang kita teriakkan di jalan-jalan. Artinya, pada fase pasca kampus kita harus menjadi bagian dari tawaran-tawaran perubahan yang kita teriakkan.

Solusi dari bidang keilmuan yang dikuasai oleh mahasiswa kemudian menjadi sebuah tuntutan. Mahasiswa adalah bagian dari solusi. Ilmu yang ditekuni mahasiswa di kampus bukan ilmu yang digunakan untuk mencari pekerjaan belaka, tapi pada dasarnya adalah ilmu yang digunakan untuk berkontribusi dalam masyarakat. Artinya, bagaimana ilmu yang kita miliki dapat kita kontribusikan untuk meningkatkan kualitas bangsa kita. Oleh karena itu kompetensi dalam bidang keilmuan menjadi sangat penting untuk kemajuan bangsa. Hal semacam ini justru akan semakin menunjang peran mahasiswa sebagai agen perubah dan pengontrol moral. Teriakan mahasiswa akan semakin berbobot jika ditunjang dengan kompetensi keilmuan dan profesionalisme dalam gerakan.

Kemampuan kita untuk melihat lebih luas akan membuat kita semakin bijaksana untuk menyikapi berbagai fenomena yang terjadi di negara kita. Gerakan mahasiswa kini harus mulai membenahi diri agar tidak tenggelam dalam euphoria pilitik, atau bahkan sebaliknya, terjebak dalam aktivitas-aktivitas studi an sich. Gerakan mahasiswa harus membuat formula agar peran-peran yang dibebankan kepada mereka berjalan beriringan dan saling menguatkan tanpa harus ada yang diabaikan. Lalu, kelak kita akan menjumpai mahasiswa-mahasiswa yang tidak apatis terhadap perubahan, aktif di lembaga-lembaga organisasi kampus maupun di extra kampus, kompeten dalam bidang keilmuannya dan memiliki moral yang dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan YME.

#Salam Berkarya.

Senin, 12 Maret 2012

Cilangkahan Dicek ke Kemendagri


Kamis, 08 Maret 2012 | 11:00 WIB





SERANG – Komisi I DPRD Banten dengan kom­posisi pimpinan dan keanggotaan yang baru berkomitmen mengawal proses pem­bentukan daerah otonom baru di Banten. Salah satunya dengan mengecek data atau kelengkapan persyaratan pem­bentukan calon Kabupaten Cilangkahan ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendari) yang telah dilakukan, Jumat (2/3).
Menurut Sekretaris Komisi I DPRD Banten Tau­fiqurokhman, aspirasi dari masyarakat yang ingin membentuk daerah otonom baru, perlu dikawal oleh DPRD Banten. Apalagi, kata dia, DPRD Banten telah me­nyetujui pembentukan Kabupaten Cilang­kahan. “Kami berinisiatif untuk memper­tanyakan kelengkapan persyaratan pem­bentukan Kabupaten Cilangakahn ke Ke­mendagri,” kata Taufik kepada wartawan di gedung DPRD Banten, Rabu (7/3).
Kata dia, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pem­bentukan, Penghapusan, dan Peng­gabungan Daerah telah menjabarkan be­berapa persyaratan pembentukan daerah otonom baru. Mulai dari syarat administrasi, persyaratan teknis, dan persyaratan fisik kewilayahan. “Dasar pembentukan Kabu­pa­ten Cilangkahan, harus mengacu pada PP tersebut,” ujarnya.     Ia mengungkapkan, berdasarkan pene­lu­suran Komisi I DPRD Banten, masih ba­nyak persyaratan yang belum terpenuhi secara administrasi untuk membentuk daerah otonom baru Cilangkahan. Ia me­merinci, meski disetujui melalui Surat Ke­putusan Nomor 172.2/Kep.01-DPRD/2007, DPRD Lebak belum mencantumkan nominal bantuan keuangan, persetujuan pernyerahan aset, dan persetujuan penyerahan sarana dan prasarana untuk Kabupaten Cilang­kahan. “Semua persyaratan yang menyangkut persetujuan Bupati Lebak semua belum terpenuhi,” tandasnya.
Paling membuat Komisi I DPRD Banten bangga, persyaratan yang harus dipenuhi oleh DPRD Banten sudah dilaksanakan. Selain itu, kata Taufiq, meski mayoritas persayaratan dari Gubernur Banten sudah dipenuhi, namun masih ada yang tersisa. “Yaitu persetujuan pemindahan personel atau pegawai dari Pemprov Banten,” ujarnya.
Menurut Taufiq, pembentukan daerah otonom baru di Lebak Selatan perlu perjua­ngan serius. Hal ini karena, seluruh persya­ratan teknis dan fisik kewilayahan, belum dilengkapi. “Sebanyak 15 syarat terkait tek­nis dan fisik kewilayahan, semua belum terpenuhi. Ini Jadi tantangan untuk ma­sya­rakat di Lebak Selatan,” ujarnya.
Sekretaris Badan Koordinasi Pembentukan Kabupaten Cilangkahan (Bakor PKC) Agus Kenken mengaku, sudah menerima informasi dari Komisi I DPRD Banten terkait kekurangan persyaratan pembentukan Kabupaten Cilangkahan. “Kita sudah inven­tarisasi berbagai kekurangan persyaratan,” kata Agus saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Kata dia, awal perjuangan pembentukan Kabupaten Cilangkahan, Bakor PKC menga­cu kepada PP Nomor 129 tentang Persyaratan Pembentukan dan Kriteria Pemekaran Daerah, sehingga tambah banyak persyaratan yang belum dilengkapi. “Persyaratan yang masih kosong, memang terkait persetujuan Bupati Lebak, serta syarat teknis dan kewilayahan,” ujarnya. Namun, Bakor PKC berkomitmen untuk melengkapi semua persyaratan. “Nanti akan dibuat tim khusus untuk melengkapi persyaratan yang belum terpenuhi,” ujarnya.(run/mg-11/ags/del)

Jumat, 02 Desember 2011

Ironi Lebak Selatan (HUT 183 Lebak)

Picture 1. Antara Jalan & Kubangan Kebo, Sulit untuk di Bedakan.



Picture 2. Kemiskinan & Kehidupan yang tidak Layak, merajalela !!
Picture 3. Kondisi Ruang Kelas/ fasilitas pendidikan yang tidak Layak
#Foto By: Bopong

Rabu, 02 November 2011

IMC CETAK MAHASISWA BERKUALITAS (LAPORAN PENGKADERAN III IMC)

– Dari Lokal Menuju Global 

Cihara - Sebagai wujud peningkatan sumber daya manusia di Lebak Selatan, IMC menggelar latihan kepemimpinan (LK) III di vila kuning, Kecamatan Cihara pada 28 sampai 30 Oktober. Pada kegiatan tersebut, mahasiswa diberikan ilmu mulai dari social, politik dan jurnalistik.

LK merupakan kegiatan yang wajib dilakukan oleh organisasi untuk menciptakan sumber Daya manusia yang memiliki ilmu pengetahuan serta wawasan kedaerahan dan kebangsaan. Sesuai tugas mahasiswa yang digariskan dalam tri darma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat, mahasiswa sebagai penerus bangsa haruslah menyiapkan diri dengan berbagai ilmu pengetahuan.

Wilayah lebak bagian selatan merupakan wilayah yang kaya akan sumber daya alam, mulai dari pertambangan, perkebunan, perikanan, kelautan dan pariwisata serta budaya. Untuk itu, selaku generasi penerus daerah, kualitas mahasiswa harus ditingkatkan agar bias mengelola sumber daya alam secara baik. Selain itu, Lebak bagian selatan sedang melakukan perjuangan menjadi daerah otonom baru bernama Cilangkahan, sehingga jika terbentuk haruslah memiliki sumber daya manusia yang berkualitas.

Mahasiswa daerah harus mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional, sesuai Motto IMC “Dari Lokal Menuju Global”. Mahasiswa harus bermanfaat bagi masyarakat, sehingga harus meningkatkan kualitas diri melalui kegiatan Organisasi dan juga melatih kepekaan terhadap fenomena social yang berkembang di daerah.

####







Rabu, 05 Oktober 2011

IMC KAMPANYE MINAT BACA


Malingping- Keluarga Besar Ikatan Mahasiswa Cilangkahan (IMC) memberikan sumbangan buku umum dan bacaan siswa kepada kelompok taman Baca dan Budaya Aos Hartos didesa Cilangkahan, Kecamatan Malingping, Sabtu (1/10). Sumbangan buku itu dalam rangka kampanye atau mendorong minat baca masyarakat yang masih kurang diwilayah calon kabupaten cilangkahan.

Pemberian buku disampaikan oleh Endayani (Ketua IMC) kepada pengelola Kelompok taman Baca & Budaya Aoshartos yogi, disaksikan Ketua Dewan Pembina KB IMC Riki Gana Suyatna dan dihadiri oleh Bidang-bidang IMC serta Komisariat IMC UNTIRTA, Leni Solihat, yang merupakan pengakomodir pengumpulan Buku tersebut.


~ Photo Simbolis penyerahan Buku Paket & Bacaan ~


Masalah pendidikan yang saat ini dihadapi oleh masyarakat adalah minat baca masyarakat yang masih rendah. Saat ini masyarakat Indonesia dikenal dengan tradisi budaya lisan yang kemudian menyebabkan enggan berkomunikasi dengan tulisan. Meningkatkan minat baca merupakan tugas yang sulit, tetapi bias dilakukan dengan menanamkan kebiasaan membaca sejak anak usia dini. Oleh karena itu, harus ada kerjasama anatara pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan minat baca masyarakat ini.

Sekolah di calon Kabupaten Cilangkahan masih jarang yang memiliki perpustakaan. Oleh karena itu, taman bacaan merupakan salah satu sarana untuk mencerdaskan masyarakat desa.

Mari bersama Cerdaskan Masyarakat dengan membaca....................!!!


* Keluarga Besar Ikatan Mahasiswa Cilangkahan









Rabu, 28 September 2011

Kunjungan Kerja Gubernur Atut Dihadang Demo

Written by CHAIRUL NURUL Sunday, 15 May 2011 18:37 

LEBAK, GARDABERITA - Sejumlah jalan provinsi, Khususnya yang berada di Banten Selatan (Bansel) Kabupaten Lebak akan segera diperbaiki. Gubernur Banten,  Hj Ratu Atut Chosiyah, juga tengah memperjuangkan ke Kementrian Pekerjaan Umum (PU) agar jalan berstatus nasional segera diperbaiki.
Ini mengemuka pada acara audiensi dengan perwakilan dari Ikatan Mahasiswa Cilangkahan (IMC) yakni, Riki Gana, Enda, Agus, Rini Maryani dan Imron Rosadi dengan  gubernur Banten, di rumah salah seorang tokoh perempuan, Hj. Encuk Sukmaliah Jejen di Kampung Kaum Pasar Desa Malingping Selatan Kecamatan Malingping Kabupaten Lebak, Minggu (15/05/2011).

“Ruas jalan Saketi – Malingping dan sejumlah ruas jalan lainnya baik yang berstatus jalan Provinsi maupun nasional sekarang sedang di tangani. Insya Allah pada tahun 2012 akan dilaksanakan secara tuntas. Selain itu juga Ibu (Atut-red) sudah berupaya ke PU pusat memperjuangkan agar jalan berstatus jalan nasional juga dilakukan perbaikan dan alhamdulilah sejumlah ruas jalan berstatus jalan nasional sekarang sudah mulai diperbaiki,”kata Gubernur.

Atut menegaskan,  kunker nya ke sejumlah kecamatan yang ada di Bansel diantaranya, Cibeber, Panggarangan, Cihara dan Malingping yaitu untuk melihat kondisi dan menyerap aspirasi secara langsung serta mensosialisasikan berbagai program pemprov dimasa kepemimpinnya yang diantaranya Gerakan Masyarakat Magrib (GEMMAR) mengaji.

“Kunker Ibu ke sejumlah wilayah di Banten termasuk yang ada di Bansel Kabupaten Lebak ini, untuk melihat secara langsung kondisi sebenarnya dan menyerap aspirasi untuk selanjutnya Insya Allah akan ditindak lanjuti. Ini dilakukan karena ibu juga sangat menginginkan apa yang menjadi harapan masyarakat Banten diantaranya memperbaiki seluruh infrastruktur jalan yang ada di Banten dapat terwujud. Namun perlu diketahui untuk mewujudkan semua itu terkendala oleh anggaran yang belum mecukupi,” katanya.

Selain itu lanjut, Atut, Pemprov Banten akan mendukung pembangunan infrastruktur di seluruh Kecamatan Kabupaten Lebak sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Pembangunan infrastruktur di kecamatan selama ini menjadi perhatian serius karena akan memperlancar akses perekonomian masyarakat juga peningkatan pendidikan dan kesehatan, Provinsi siap untuk menggelontorkan dana pembangunan infrastruktur sebesar Rp. 1 miliar per kecamatan,”imbuhnya.

Menurut pantauan, pada kunker gubernur banten, Hj. Ratu Atut Chosiyah ke Kecamatan Malingping, diwarnai dengan aksi unjuk rasa puluhan orang yang tergabung dalam IMC dengan cara   melakukan long march dari pasar baru simpang desa sukamanah ke ibu kota kecamatan Malingping. Di sepanjang jalan Simpang-Malingping dan sejumlah titik diantaranya di Cikeusik, Desa Malingping Selatan dan di sejumlah tempat para pengunjuk rasa dar IMC berorasi menuntut beberapa poin diantaranya perbaikan jalan Saketi – Malingping.

Setelah beberapa jam berorasi dan perwakilan dari IMC diterima audiens dengan gubernur banten serta memberikan penjelasan langsung kepada puluhan aktivis IMC, para pengunjuk rasa yang dijaga ketat puluhan polisi membubarkan diri. (Ris/unk)